Nobar “Pesta Babi” di Uniska, PSN Mengancam Ruang Hidup Masyarakat Adat


KANALKALIMANTAN.COM, BANJARMASIN – Antusias beragam kalangan menonton film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” semakin meluas.
Menyasar kampus, teranyar nonton bareng digelar di Universitas Islam Kalimantan (Uniska) MAB Banjarmasin dengan ditonton ratusan pasang mata mahasiswa dan umum. Tak hanya ditayangkan, setelah pemutaran berlanjut diskusi film Pesta Babi, Kamis (14/5/2026) malam.
Nobar diselenggarakan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Uniska MAB mengundang tiga narasumber, diantaranya Bung Paul dari Ikatan Mahasiswa Papua Kalimantan Selatan (IMAPA Kalsel), Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Walhi Kalsel Cecef Jefry Raharja, serta Koordinator Nasional Lembaga Studi Visi Nusantara (LS Vinus) Muhammad Arifin.
Baca juga: Jemaah Kloter 16 Asal HSU Masuk Karantina, Terbang Sabtu Dini Hari

Anggota Ikatan Mahasiswa Papua (Imapa) Kalsel, Bung Paul. Foto: ist
Bung Paul menganggap hutan bagian dari kehidupan dan identitas masyarakat Papua. Jadi, mereka tak hanya memandang hutan sebagai sumber daya alam belaka.
“Hutan kami anggap sebagai mama, memiliki kehidupan sendiri sebagai tempat ritual adat, makan, dan sumber kehidupan bagi kami,” ucapnya.
Pihaknya memandang keberadaan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua malah mengancam ruang hidup masyarakat adat yang telah hidup berdampingan dengan hutan.
Baca juga: Pemdes Lamunti Salurkan BLT Dana Desa kepada 12 KPM
Lebih jauh, masyarakat adat Papua terutama di Merauke masih berjibaku mempertahankan tanah leluhurnya bahkan sampai ke meja Mahkamah Konstitusi (MK). Sayangnya, keadilan itu belum berpihak ke mereka sampai sekarang.
“Hadirnya proyek strategis nasional bagi kami menjadi ancaman ruang hidup dan tentara semakin banyak, kami merasa tidak aman,” jelas Bung Paul.
Sementara itu, narasumber kedua Cecef Jefry Raharja menilai masalah Papua sudah menyentuh ranah kemanusiaan bukan lagi soal administratif atau ekonomi saja.

Staf Advokasi dan Kampanye Lingkungan Walhi Kalsel, Cecef Jefry. Foto: ist
Baca juga: Pemdes Lamunti Salurkan BLT Dana Desa kepada 12 KPM
“Dalam konteks Papua, kita bukan hanya bicara soal batas administrasi. Kita bahkan bisa menyandingkan Papua dengan Palestina, bagaimana kolonialisme dan imperialisme hadir di era modern seperti sekarang,” ujar Cecef.
Bagi Walhi Kalsel, istilah “kolonialisme baru” berbentuk penguasaan sumber daya alam dan ruang hidup masyarakat adat. Hal itulah yang kini tergambar jelas di tanah Papua.
Bahkan menurutnya, praktik semacam ini sudah berlangsung lama-tepatnya mulai era Order Baru sampai sekarang masih dilakukan lewat sejumlah kebijakan pembangunan.
“Logikanya, masyarakat adat di Papua maupun di Kalimantan sudah ada jauh sebelum negara ini merdeka. Namun, ketika negara hadir dengan struktur pemerintahan dan sistemnya, justru kehadiran masyarakat hukum adat yang selama ini menjaga sumber daya alam malah dinegasikan,” ungkap Cecef.
Baca juga: Teknik Jelujur Pewarna Alami SBK Sasirangan di Women Ecopreneurs Market Day Bali
Di sisi lain, Muhammad Arifin mengatakan, kampus mesti menjaga marwahnya sebagai ruang demokrasi dan dialektika publik. Hal itu tertuang jelas dalam tulisannya yang menekankan peran kampus dalam menjaga demokrasi paling akhir.
“Jika kampus tidak lagi mampu menjaga ruang demokrasi, maka bangsa ini berada dalam ancaman kemunduran,” tutur Arifin.

Koordinator Nasional LS Vinus, Muhammad Arifin. Foto: ist
Dia melanjutkan, film “Pesta Babi” yang mendapat penolakan di berbagai daerah menunjukkan masyarakat tidak diberikan ruang untuk menilai isi film secara terbuka.
“Apakah film tersebut benar-benar memecah belah bangsa, atau justru membuka fakta dan data yang selama ini disembunyikan? Negara tidak boleh takut terhadap hasil investigasi dan kerja jurnalistik yang disampaikan oleh Dandhy Laksono dan timnya,” tegasnya.
Baca juga: 140 Tamu Allah Dilepas dari Amuntai Menuju Tanah Suci
Oleh sebab itu, LS Vinus Nusantara menentang segala bentuk pembubaran paksa, intimidasi, serta pembungkaman ruang diskusi.
“Jika ada pihak yang keberatan terhadap film ini, mari duduk bersama dan berdiskusi secara terbuka. Di situlah letak dialektika dan kedewasaan dalam demokrasi,” pungkasnya. (Kanalkalimantan.com/fahmi)
Reporter: fahmi
Editor: bie
Artikel Nobar “Pesta Babi” di Uniska, PSN Mengancam Ruang Hidup Masyarakat Adat pertama kali tampil pada Kanal Kalimantan.
Komentar
Posting Komentar